Antara PPDB, Zonasi, Sekolah Favorit, SDM dan Fasilitas

0
63

Kabarpati.com 06 Juli 2018

Semua orang tua pastinya menginginkan anaknya menempuh pendidikan di sekolah negeri favorit yang memiliki segudang prestasi dan fasilitas pendidikan pendidikan yang bagus dimana sekolah-sekolah tersebut biasanya berada di kota. Jadi siswa yang memiliki nilai akademik bagus atau pintar dan berprestasi di daerah pinggiran dan pedalaman pun ramai-ramai eksodus ke kota serta memilih sekolah negeri favorit.

Tak hanya itu, golongan orang kaya di daerah pinggiran dan pedalaman pun rela merogoh kocek mereka lebih dalam untuk menyekolahkan anak mereka di perkotaan yang menurut mereka sekolah di kota memiliki kuwalitas yang lebih bagus dari pada di tempat sekitar mereka.

Namun saat ini ada sistem baru dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Negara kita. Merujuk pada Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 14 tahun 2018 tentang PPDB, dimana tempat tinggal atau zonasi merupakan prioritas pertama dalam penerimaan peserta didik baru.

Dalam sistem zonasi ini, setiap sekolah tidak peduli sekolah negeri favorit atau bukan dalam penerimaan siswa baru wajib mengutamakan siswa yang tinggal di dekat lingkunngan sekolah tersebut tanpa memandang nilai akademik, prestasi dan tingkat kemampuan orang tua siswa, bahkan bagi para siswa kategori orang tua tidak mampu merupakan prioritas yang paling utama untuk diterima disekolah yang terdekat dengan lokasi tempat tinggal berlaku untuk tingkat SD, SMP dan SMA negeri diseluruh Indonesia.

Menurut Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendy, dengan sistem zonasi tersebut diharapkan adanya pemerataan pendidikan, menghilangkan predikat sekolah favorit dan berkeadilan.

Memang selama ini siswa yang memiliki prestasi dan niai akademik bagus cenderung memilih sekolah negeri favorit yang biasaya berada diperkotaan, sedangkan anak-anak yang memiliki nilai akademik kurang bagus dan minim prestasi masuk di sekolah biasa.

Tanpa disadari penerapan sistem pendidikan terdahulu mengelompokkan sekolah dan siswa seperti layaknya kasta, anak pintar berkelompk dengan anak pintar dan anak yang kurang pintar berkelompok dengan yang kurang pintar.

Tak hanya itu bagi orang-orang kaya, menyekolahkan anaknya di sekolah favorit juga merupakan sebuah kebanggaan tersendiri sehingga yang terjadi anak orang kaya sekolah di tempat yang lebih bagus sedangkan anak orang miskin sekolah di sekolah biasa bahkan terpinggirkan.

Dengan adanya sistem baru berupa zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) diharapkan dapat mengubah sekema kasta yang saat ini tebentuk dalam dunia pendidikan kita.

Dalam sistem yang baru ini, zona tempat tinggal peserta didik baru menjadikan prioritas utama untuk diterima disekolah terdekat. Jadi secara otomatis sekolah yang dulunya dikategorikan favorit sekarang mau tidak mau harus menerima siswa peserta didik baru yang tinggal di zona terdekat dengan sekolah tersebut tanpa memandang nilai akademik maupun prestasi yang diraih dengan kuota sebanyak 90% dari daya tampung sekolah tersebut.

Tak hanya itu, untuk menghapus diskriminatif terhadap siswa yang kurang mampu dalam segi ekonomi atau siswa dari keluarga miskin juga mendapat prioritas utama untuk diterima disekolah terdekat tak peduli sekolah tersebut favorit atau bukan.

Dengan sistem yang baru ini diharapkan dapat menghapus predikat sekolah favorit dan pengkastaan dalam dunia pendidikan kita.

Tak hanya untuk pemerataan pendidikan, sistem ini diterapkan dengan beberapa tujuan, diantaranya adalah mengurangi tingkat kepadatan kendaraan saat jam-jam sekolah karena siswa yang tinggal di luar zona memiliki kemungkinan kecil untuk diterima di sekolah favorit di luar zona tempat tinggal mereka. Selain itu dengan sistem ini diharapkan para siswa tetap dalam bimbingan dan pengawasan orang tua karena sekolah tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Namun pada kenyataannya, tidak serta merta sistem baru ini dapat menghapus image sekolah favorit maupun non favorit. Kenyataannya dilapangan sekolah kategori favorit menjadi pilihan pertama bagi siswa yang tinggal di zona sekolah tersebut sehingga kuota lebih cepat habis dibanding sekolah lainnya di zona yang sama.

Tak hanya itu bahkan dari beberapa laporan media para orang tua melakukan berbagai hal agar anaknya diterima disekolah kategori favorit tersebut, mulai dari pindah KK sampai dengan memiskinkan diri dengan meminta surat keterangan miskin supaya anak mereka dapat diterima di sekolah favorit tersebut. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem zonasi tidak serta merta dapat menghapuskan image masyarakat terhadap keberadaan dan predikat sekolah favorit tersebut.

Selain sistem zonasi harusnya pemerintah juga memperhatikan hal-hal yang lain supaya tidak terjadi ketimpangan antar sekolah sehingga image masyarakat dapat berubah, diantaranya adalah peningkatan sumberdaya pengajar atau guru. Para pengajar atau guru juga harus mendapat perhatian yang sama serta standart yang jelas baik di perkotaan maupun di daerah serta peningkatan mutu yang sama antara sekolah yang satu dan lainnya sehingga tidak ada kesenjangan antar sekolah.

Selain hal tersebut, pemerintah juga perlu meningkatkan sarana dan prasana pendidikan serta memberikan perhatian yang sama. Selama ini sekolah di perkotaan memiliki saran dan prasarana yang lebih lengkap dibanding dengan sekolah yang ada di daerah.

Dengan sarana dan prasarana serta standart yang sama seiring berjalanya waktu diharapkan dapat mengubah image masyarakat terkait dengan sekolah favorit dan tidak favorit serta adanya keadilan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi generasi penerus bangsa
(Wiwid/Pimred Kabarpati.com)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar anda
Masukkan nama anda disini