Tombronegoro Dipertanyakan

0
168

Kabarpati.com, Minggu, 16 September 2018

Adipati Pati, Tombronegoro yang di klaim oleh Tim Hari Jadi Pati 1994 (THJP) hadir dalam pisowanan agung era kerajaan Majapahit dibawah kepemimpinan Raja Jayanegara seperti yang tertulis dalam prasasti Tuhanaru tahun 1323 di Desa Sidateka dipertanyakan keabsahannya oleh para pemerhati sejarah Kabupaten Pati yang tergabung dalam Yayasan Arga Kencana.

Hal tersebut diungkapkan oleh Drs.Djaka Wahjono, Budayawan dan pemerhati sejarah serta salah satu pendiri Yayasan Arga Kencana dalam jagong sejarah dengan tema Identifikasi Tombronegoro dalam prasasti Tuhanaru di Klenteng Hok Tik Bio, Jalan Setia Budi kompleks pecinan Pati.

Dalam paparannya, Djoko Wahjono mengungkapkan bahwa pada zaman Majapahit beberapa nama orang sekelas bangsawan apapun tingkatannya tidak ada yang memakai nama atau gelar yang mengambil nama sejenis ikan. Rata-rata mereka memakai nama hewan darat atau hewan terbang/angkasa. Selebihnya jika dikaitkan dengan nama hewan melata adalah sejenis ular atau buaya.

“Entah dari mana dan kapan pemakaian nama sejenis ikan hewan laut dipakai sebagai nama orang pada zaman Majapahit. Yang jelas pada zaman Majapahit beberapa nama orang sekelas bangsawan apapun tingkatannya tidak ada yang memakai nama atau gelar yang mengambil nama sejenis ikan. Rata-rata mereka memakai nama hewan darat atau hewan terbang/angkasa. Selebihnya jika dikaitkan dengan nama hewan melata adalah sejenis ular atau buaya. Orang-orang pada zaman Majapahit kebanyakan memakai nama sejenis hewan darat dengan sifat-sifat yang mencitrakan kekuatan, keberanian, kegarangan, dan kelincahan seperti kidang telangkas, kuda sempana, jaran panoleh, sima rodra, singa yudha, mahesa cempaka, lembu sora, kebo kenongo, dan gajah mada. Sedangkan hewan air sejenis ikan,tampaknya sulit atau tidak ditemukan pada zaman majapahit.” Ungkap Djoko Wahjono.

Tak hanya itu, Djoko Wahjono juga mengungkapkan bahwa THJP yang menggunakan prasasti Tuhanaru sebagai salah satu rujukan dalam perumusan dan penetapan hari jadi Kabupaten Pati juga dipertanyakan.

“Tim Hari Jadi Pati 1994 (THJP 1994) juga menggunakan prasasti Tuhanaru sebagai salah satu rujukan dimana menurut THJP Adipati Pati Tombronegoro hadir dalam pisowanan agung seperti yang tertuang dalam prasasti Tuhanaru dengan adanya idiom ‘pati’ dari 24 pejabat kerajaan Majapahit yang hadir ada 2 pejabat yang memakai nama atau gelar yang beridiom “Pati” yaitu Sang Wredhamantri Sang Aryya Patipati Pu Kapat (teks asli: San Matri Wrddhengtajna San Aryya Patipati Pu Kapat) dan Sang Aryya Jayapati Pu Pamor (teks asli: San Aryya Jayapati, Pu Pamor) tidak ditemukan nama Adipati Pati Tombronegoro tercantum dalam prasarti Tuhanaru.” Ungkap Djoko Wahjono

“Dalam Kamus Kawi-Jawa oleh CF. Winter SR. dan R. Ng. Ronggowarsito, halaman 20, diartikan “Patipati” adalah “Kalangkung-langkung”. Jadi Sang Aryya Patipati Pu Kapat dapat diartikan “Pu Kapat ingkang linangkung”, maksudnya Pu Kapat adalah orang yang kesaktiannya sanagat tinggi. Orang yang berkemampuan demikian paling tidak beliau adalah seorang Senopati perang, Sang Wedhamantri Sang Aryya Patipati.Kalau logika yang dipakai team THJP 1994 karena ada nama “Pati”-nya sehingga dianggap sebagai Adipati Pati, lantas apakah semua Adipati dan Senopati berasal dari Pati?” Kata Djoko Wahjono.

“Dalam rumusannya THJP memakai dasar dari Babad Pati lokal (pupuh 646, halaman 113) dan Buku Pakem Jilid II, Sejarah Pati, Djoewana lan Rembang (Halaman 130). Diceritakan Tombronegoro Adipati Pati hadir dalam pertemuan di Majapahit pada masa Brawijaya II bernama Jaka Pekik, putra Jaka Suruh sedangkan dalam Babad Pati terbitan Balai Pustaka tidak ada tertulis nama Tombronegoro.” Ungkap Perupa Djoko Wahjono.

Jagong sejarah yang digelar di Klenteng Hok Tik Bio tersebut juga dihadiri oleh beberapa mantan pejabat yang ikut terlibat dalam pengesahan Hari Jadi Kabupaten Pati, H.Sugiono yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pati yang juga sebagai penggedok palu pengesahan Hari Jadi Kabupaten Pati.

Selain H.Sugiono, hadir juga Drs. Desmon Hastiono, MM mantan Sekda Pati, Soponyono, Dalang Win Kayen, para seniman ketoprak seperti Kunyik, Tarmuji, para pegiat sejarah dan awak media.

Ketua Yayasan Arga Kencana Aan Wijaya juga menyampaikan bahwa dengan kegiatan jagong sejarah ini akan dibuat laporan dan permintaan audiensi kepada komisi D DPRD kabupaten Pati untuk ditindaklanjuti.

“Dari hasil jagong ini kami akan membuat laporan serta permintaan audiensi kepada DPRD komisi D yang membidangi pendidikan dan sejarah.merupakan ranah komisi D. Ke depan secara berkesinambungan kami juga akan mengadakan kegiatan serupa sehingga capaian-capaiannya bisa diukur.” Ungkap Aan Wijaya yang juga pendiri omah rembug Desa Ronggo Kecamatan Jaken.

TINGGALKAN KOMENTAR

Isikan komentar anda
Masukkan nama anda disini